Angkot Berkurang 181 Unit
Koridor II Trans Pakuan Beroperasi
CIDANGIANG - UJI coba jalur baru Trans Pakuan Cidangiang-Rancamaya yang direncanakan mulai pukul 08:00 kemarin molor hingga pukul 09:00. Pasalnya, salah satu dari enam bus yang akan diuji coba mengalami keterlambatan karena terjebak macet. Alhasil, calon penumpang harus menunggu beberapa waktu.
Salah seorang penumpang Rahmat Mubarok mengeluhkan bahwa pelayanan Trans Pakuan belum bisa menyamai Trans Jakarta. Tidak adanya AC, secara tidak langsung mengurangi kenyamanan bagi penumpang. “Trans Pakuan harusnya punya jalur sendiri karena sama saja kalau masih juga terjebak macet,” tambahnya.
Direktur PDJT Trans Pakuan Hari Harsono beralasan, keterlambatan itu dikarenakan sopir bus tergolong baru. Sopir baru yang awalnya sopir angkot perlu menyesuaikan diri. Dalam uji coba itu, hadir Sekdakot Bambang Gunawan untuk melihat tahap uji coba dan penggunaan smart card. “Setelah tahap uji coba kami akan melakukan tahap evaluasi baru kami siap launching,” ujarnya.
Menurut Hari, beroperasinya koridor II tidak dibarengi uji coba sistem smart card. Sebab, hingga saat ini masih menunggu penyerahan administrasi pusat. “Semua sarana dan prasarana sudah siap, termasuk kesiapan awak bus Trans Pakuan untuk pengoperasian transaksi pembayaran paling canggih di Kota Bogor,” ujarnya.
Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bogor Suharto menambahkan, untuk diterima menjadi sopir bus Trans Pakuan bukan perkara mudah. Setidaknya ada tiga proses yang harus dijalani sopir. “Sedangkan untuk pelatihan sopir, kami menyeleksi terlebih dulu lalu mekanisme kerja,” terangnya.
Masalah kemacetan yang belum juga terselesaikan dengan adanya Trans Pakuan dijawab diplomatis Suharto. Dia mengatakan, masyarakat harus sabar menanggapi masalah kemacetan di Kota Bogor. Menangani kemacetan harus dilakukan bertahap. “Semua ada prosesnya. Kita melakukan evolusi bukan revolusi,” ucapnya.
Untuk rumor konversi satu bus Trans Pakuan yang ditujukan mengganti tiga angkot, Suharto menjawab, prinsipnya sebagian angkot di jalur utama dialihkan ke trayek lain. Hingga kini jumlah angkot yang beroperasi di jalur utama, dari 3.606 angkot sudah berkurang menjadi 3.425 unit. Menurut Kepala Dishubkominfo Ahmad Syarief, rencana koridor II sebenarnya diujicobakan pada Februari. Namun tertunda karena pembenahan shelter baru l15 unit. Pelatihan bagi sopir bus baru pun karena awalnya mereka pengemudi angkot. “Kemudian kami rekrut dan melihat kondisi di lapangan apakah siap untuk pengoperasian di koridor ini,” terangnya.
Sebelum diuji coba, terlebih dulu diadakan rapat gabungan antara Dishubkominfo beserta TNI-Polri di Kantor PDJT Trans Pakuan. Dalam arahannya, Syarief meminta seluruh jajaran dapat mengamankan lalulintas, terutama di Terminal Rancamaya yang masuk wilayah Kabupaten Bogor.
Syarief berharap partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan operasional Trans Pakuan demi terciptanya Kota Bogor yang bebas macet. “Kami instruksikan kepada Organda dan KKSU Kota Bogor agar mendukung rencana ini,” ujarnya.
Menurut dia, saat ini kendala Dishubkominfo dalam mengatasi kemacetan adalah banyaknya terminal bayangan terutama di daerah Ciawi dan sekitarnya. “Saya rasa sekarang masalah itu yang sedang kita hadapi,” ucapnya.
Radar Bogor, 7 Maret 2009
Monday, April 13, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment